Lemah Lembut dan Santun

View previous topic View next topic Go down

Lemah Lembut dan Santun

Post by kutu_beramboi on 2010-03-01, 10:43

Amar ma’ruf dan nahi munkar hendaklah dilakukan dengan lemah lembut dan santun. Sebab segala sesuatu yang dilakukan dengan lemah lembut akan bertambah indah dan baik. Sebaliknya, jika kekerasan menyertai sesuatu, maka akan menjadi jelek. Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya tidaklah lemah lembut ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut (hilang) dari sesuatu kecuali akan membuatnya jelek,” (HR Muslim no. 2594).

Dalam riwayat lain disebutkan, “Sesungguhnya Allah Maha Penyantun, Ia menyukai sifat penyantun (lemah lembut) dalam segala urusan, dan memberikan dalam lemah lembut apa yang tidak diberikan dalam kekerasan dan apa yang tidak diberikan dalam selainnya,” (HR Bukhari dan Muslim).

Imam Ahmad ra berkata, “Manusia butuh kepada mudarah (menyikapinya dengan lembut) dan lemah lembut dalam amar ma’ruf dan nahi munkar, tanpa kekerasan kecuali seseorang yang terang-terangan melakukan dosa, maka wajib atasmu melarang dan memberitahunya,” (Ibnu Muflih, al-Adab asy-Syar’iyyah [1/212] dan Ibnu Rojab, Jami’ul ‘Ulum al Hikam [2/272]).

Jika zaman ini adalah zaman Imam Ahmad bin Hambal—Imam Ahlussunnah wal Jama’ah, sebuah zaman di mana ilmu dan sunnah lebih dominan mewarnai perilaku umat Islam kecuali ahlul bid’ah, tentu amar ma’ruf nahi munkar dilakukan dengan lemah lembut dan santun dalam menghadapi dan menyikapi kesalahan yang yang terjadi di masyarakat.

Namun, dengan berkembangnya kebodohan di kalangan kaum muslimin dan semakin jauhnya mereka dari bimbingan Al-Quran dan Sunnah—kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah Swt, amar ma’ruf nahi munkar dilakukan dengan cara-cara kekerasan. Kita berdoa semoga Allah mengembalikan kaum muslim kepada kebenaran, amiin.

Imam Ahmad berkata lagi, “Seseorang mesti menyeru dengan lemah lembut dan merendahkan diri. Jika mereka memperlihatkan kepadanya apa yang dibenci, janganlah marah. Karena (kalau marah) berarti ia ingin membalas untuk dirinya sendiri,” (Ibnu Muflih, al-Adab asy-Syar’iyyah [1/213] dan Ibnu Rojab, Jami’ul ‘Ulum al-Hikam ]2/272]).

kutu_beramboi
Active Member
Active Member

Number of posts : 597
Location : Qatar
Registration date : 2008-09-10

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top


 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum